Selasa, 21 April 2009

Politik , Dunia Tanpa Bentuk

Walau belum final, tapi hampir dipastikan Partai SBY (Demokrat) akan memuncaki perhelatan pemilu kali ini. Kemenangan partai anak bawang ini kontan langsung menimbulkan ketersinggungan elit partai lain. Macam-macam reaksinya. Partai-partai yang mengklaim dirinya partai besar dan mapan serentak panik, meski efek lanjutanya berbeda-beda. Yang satu tetap percaya diri dan tetap optimis jadi capres meski sudah terbukti capresnya adalah kartu mati. Lha gimana lagi kagok malu. Yang satu kasak-kusuk putar haluan balik kanan muter-muter yang sampai akhirnya mereka masih bingung sampai hari ini mau ngapain. Partai-partai lain bersorak, bertepuk, mencela, menuduh, diem dengan harapan dapat untung. Partai pemenangya senyam-senyum (namanya juga menang, segala sesuatu enak) dalam kebingungan ini menanti titah yang punya partai. Di pojok lain caleg-caleg bertingkah semaunya. Ada yang gila, stres, pura-pura gila, serius, stress tapi ndangdutan, ngaji, gembira dan membayangkan nikmatnya kekuasaan.
Mengamati itu semua, hanya satu kata saja.Gila...apa maunya orang-orang ini. Tapi inilah demokrasi belajaran atau justru demokrasi kelewat batas. Ada nilai-nilai yang diabaikan atas nama nilai yang lain. Semuanya berlabel atas nama rakyat dan bangsa. Rakyat mana?bangsa mana? Dimana kearifan kita dan rasa sabar kita.
Para politisi ini saya yakin pasti tahu ilmunya berpolitik. Mereka punya ilmu yang hampir sama, gerombolan intel politik yang hampir sama. Mereka pasti tahu kekisruhan dan kekonyolan pemilu kali ini sebabnya apa. Dan mereka juga tahu bukan itu yang membuat partai mereka kalah. Tapi mereka juga tahu harus dicari alasan-alasan untuk menghibur diri dan menyerang partai pemenang yang kebetulan memerintah dan memang berperan terhadap segala carut marut ini. Jadi klop kan? jurus jitu, cari alasan,kambing hitam,selamatkan diri dan dan menampilkan muka sebagai pahlawan bangsa. good concept.
Tapi secara khusus saya akan menyoroti eks aktivis yang ada didalam organisasi politik itu. Baik aktivis kanan yang selalu melihat kalau bukan dari rombongan mereka pasti komunis, atau aktivis kiri dengan idealismenya yang campur aduk, atau mereka yang memang sudah oportunis dari mahasiswanya. Hampir semua organisasi ini punya kultur sama, senior mainded. Mereka akan dengan tekun terkantuk-kantuk mendengarkan wejangan seniornya, mencoba menelaah satu demi satu kata-kata yang berbunga. Doktrin, wacana, konspirasi, idealisme, hati nurani masuk dan bergulat di dalamnya. Ketika masuk ke dunia nyata bermacam-macamlah jalan yang mereka pilih. Yang beruntung dengan berbagai cara akan menduduki pos strategis di elit partai. Wuih mereka memang hebat. Semua teori dan wacana akan dengan lancar mereka sampaikan.lenin,marx,soekarno, ali syariati, hasan al banna, atau teori konspirasi tukang bakso pingir jalan mereka ahlinya. Semua hal dapat dilihat dari berbagai bentuk. hebat khan?
Nah sekarang mereka juga ikut mewarnai hingar bingar 2009 selain para caleg dan politisi karbitan. Harusnya idealisme dan kerakyatan mereka yang bicara. Bukan kegenitan intelektualnya. Hanya dengan itu mereka akan memberikan sumbangsih yang luar biasa. Jika tidak mereka berpotensi untuk membikin segala situasinya semakin ricuh.
Akhirnya inilah dunia politik. Tanpa bentuk.Lonjong, kotak, lingkaran terserah dari sudut mana kita mengambilnya.wassallam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar